Partai Suu Kyi Menang di Yangon

shintaTEMPO.CO, Yangon – National League for Democracy, partai yang dipimpin tokoh pro-demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, memenangi pemilihan umum di sejumlah daerah di Yangon, Myanmar.

Union Election Commission atau Komisi Pemilihan Umum Myanmar hari ini, Senin 9 November 2015, mengumumkan hasil pemungutan suara di sejumlah tempat di Yangon. Ketua Union Election Commission, Tin Aye, memperlihatkan sejumlah data sementara hasil pemungutan suara. Tapi dia tidak memberi penjelasan secara detail tentang data itu.

Dia menjelaskan hasil pemilu sementara ini di kantor Union Election Commision di Naypyidaw. Pernyataan Tin Aye disiarkan melalui layar monitor di kantor cabang KPU Myanmar di Yangon melalui layar monitor, Senin, 9 November 2015.

Lebih dari 100 jurnalis dari media Myanmar ataupun asing datang untuk menyaksikan pengumuman itu. Satu di antaranya adalah Tempo. Jurnalis Tempo ada di Yangon untuk mengikuti program fellowship dari Southeast Asian Press Alliance.

Mendengar kabar kemenangan NLD, ribuan warga Yangon tampak memadati kantor sekretariat partai NLD. Mereka menyaksikan penghitungan suara sementara yang ditampilkan dalam layar di depan kantor NLD. Sky Net TV Channel, televisi milik pemerintah Myanmar, menyiarkan penghitungan itu. Ribuan orang berteriak “NLD! NLD!” Terdengar juga lagu yel-yel NLD.

NLD bertarung melawan partai penguasa, Partai Uni Solidaritas dan Pembangunan (USDP). Pada 5 November 2015, Suu Kyi menyatakan NLD punya waktu dua bulan untuk menyiapkan kampanye hingga pemilu berlangsung. “Kami banyak melibatkan kalangan muda dan aktivis untuk kampanye,” kata Suu Kyi di rumahnya dalam jumpa pers.

Sekitar 30 juta warga Myanmar terdaftar sebagai pemilih dalam pemilu Myanmar. Ada 90 partai yang bertarung pada pemilu ini.

Pemilu bersejarah Myanmar berlangsung terbuka untuk pertama kalinya di negara itu dalam 25 tahun terakhir. Pesta demokrasi digelar setelah junta Myanmar menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah semi-sipil pada empat tahun lalu setelah berkuasa selama 49 tahun.

[This article originally appeared in Tempo.co. It was written by Shinta Maharani while on fieldwork for the 2015 Fellowship.]